Click this to share.. Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Antara Kenyataan atau imajinasi saja ?

Suatu malam saya berkendara naik mobil dengan istri saya dan di kiri kanan jalan saya melihat jalanan di sekitar sepi karena memasuki libur lebaran, saya jadi teringat malam sekitaran tahun 2008 di mana waktu itu juga malam yang  sama di saat lebaran.

Ketika itu saya bersama teman baik saya Hariadi berlibur ke Jakarta dan menginap di rumah teman kami, Paulus. Waktu itu, seingat saya hari minggu, kami berkendara naik motor pinjaman milik kakak Paulus, dimana Paulus memutuskan tidak ikut karena ada acara keluarga. Dan berangkatlah kami berdua dari jalan Timbul, Jagakarsa, Pasar Minggu daerah Jakarta Selatan, berjalan keliling kota Jakarta. Mumpung kami sedang berada di luar kota kelahiran kami yaitu Surabaya, kami ingin memanfaatkan moment ini sebaik baiknya. Keadaan Jakarta di malam itu sepi, tampak hanya satu atau dua kendaraan yang lewat.

( PHOTO DOKUMENT by ROTE Creative Production www.roteproduction.com ) | Event Organizer (EO) Surabaya, Bali dan Jakarta Indonesia ( pin BBM 2B2B971A | Whatsapp +6282131036888 )

Kawan Baik : kami adalah kawan baik semasa sma di Surabaya dari kiri – kanan Hariadi, Ronny, saya ( penulis : Tommy ) dan Paulus waktu berkunjung ke Dufan Ancol

( PHOTO DOKUMENT by ROTE Creative Production www.roteproduction.com ) | Event Organizer (EO) Surabaya, Bali dan Jakarta Indonesia ( pin BBM 2B2B971A | Whatsapp +6282131036888 )

Angin berhembus dingin, lembut, sepoi membelai telinga saya untungnya saya memakai jaket karena saya di depan yang mengemudi sementara teman saya Hariadi di belakang sambil memantau GPS. Dapat di katakan kami  seperti “kipas angin” tidak hentinya kepala kami bergerak melihat kiri dan kanan layaknya orang “ Ndeso “ melihat gedung – gedung pencakar langit di Jakarta, yang umumnya tidak setinggi gedung di Surabaya yang terkena pemberlakuan maksimal tinggi gedung untuk kepentingan zona terbang pesawat di Juanda.

Sampai tiba saatnya kami memutuskan untuk berhenti sejenak di suatu lokasi, dan memarkirkan motor pinjaman di tempat aman (karena takut di modus, hahahaha secara motornya adalah motor sport  CBR baru yang dengan baik hati di pinjamkan oleh kakak teman kami). Karena kami belum pernah kesini sebelumnya, perasaan kami untuk ingin mendekat semakin kuat, sambil di sinari bulan yang nampaknya bulat full, walau nampaknya waktu itu menurut saya agak kemerahan (jadi teringat blood moon), tapi yah saya tidak terlalu menghiraukannya mitos seputaran blood moon. Sambil kemudian asyik meneruskan foto – foto selfie kami dan menikmati pemandangan sekeliling. Entah kenapa tiba – tiba saya merogoh kantong dan menemukan uang koin 100 perak dan 500 perak yang berwarna gold dan saya pilih mengambil koin 500 dan  melemparkan uang koin itu ke arah kolam air yang mendekati pilar tugu sambil dalam hati saya berdoa. Setelah cukup lama di sana dan setelah menghabiskan minuman ringan, saya mengajak kawan saya untuk meneruskan perjalanan.

Tidak ada yang aneh sekembalinya saya dari tempat tadi, hanya saja ketika di jalan kami kena “musibah”, yah apes di malam dini hari sekitar pukul 3.00 ban motor kami terkena paku di daerah pasar Minggu. Alamak ! kami kompak tepok jidat mana ada yang buka tukang tambal ban pagi – pagi gini pikir kami, mana motornya berat lagi kalau harus di tuntun. Kawan saya memutuskan untuk turun dari motor dan mencari dahulu di sekitar situ dengan berjalan kaki apakah ada tambal ban yang buka dan meminta saya untuk menunggu di situ. Setelah berselang 3 menit barulah saya setuju dengan usul kawan saya ini.  “ Ya Sudahlah, kamu jalan dulu sob “ begitu jawab saya.

Sambil saya menunggu sendirian di malam yang dingin, seingat saya itu adalah jalan yang panjang dan sepi menuju kearah Depok ( kalau salah maaf yah saya bukan asli Jakarta ), dinginnya semakin pagi semakin brrr, 3 – 5 menit berselang kawan saya masih belum juga kelihatan hidung mancungnya, mana suara anjing juga menyalak bersahutan dan  melolong lagi. Hiiiiii …, pikiran saya sudah tidak tidak saja kalau – kalau ada sesuatu gimana ? entah anggota Kapak Merah, Kapak Hijau, Kapak gondrong, secara motor sport baru, atau apalah sampai bangsa lain selain manusia. Wuaduhhh buru buru saya ambil korek dan selinting cengkeh untuk menemani kegalauan saya.

Kemudian kawan saya si mancung ini mulai muncul dari kejauhan menghampiri saya, langsung saja saya berjingkat dan menyuruhnya untuk berjalan atau berlari lebih cepat entah dia bawa berita baik atau buruk saya hanya berharap supaya kita segera bersama saja berjalan. Untunglah kawan saya membawa berita baik kalau ada tukang tambal ban di sekitar situ, tanpa berlama – lama lagi saya berjalan bersama kawan saya.

Sampailah akhirnya malam itu kami bisa pulang dan beristirahat ke rumah kawan kami Paulus dan motor kakaknya pun dengan selamat di parkiran rumahnya. Fiuhhh.. Selang seminggu berselang telah habis waktu kami untuk liburan back packer di Jakarta, Bogor dan Bandung, tiba saatnya saya untuk kembali ke Surabaya untuk meneruskan aktifitas pekerjaan saya.

Malam bersama istri saya ini, mengingatkan saya akan peristiwa pelemparan koin di kolam bundaran HI itu, saya tidak menyangka kalau doa saya waktu itu bisa menjadi kenyataan pada waktu ke depannya. Saya bagi sedikit apa yang menjadi doa saya waktu itu atau mungkin bukan doa tapi lebih seperti harapan yang tidak sengaja, waktu itu kenapa yang saya pilih lempar adalah koin 500 perak bukan koin 100 perak, karena saya berpikir semakin besar koinnya semakin dasyat nanti hasilnya. Harapan saya Koin yang saya lempar ini akan berbalik  ( bukan dalam arti harafiah / sesungguhnya ) ke saya di waktu mendatang menjadi 1 Miliar setidaknya, paling tidak seperti itu yang ada dalam benak saya ketika melemparkan koin itu.

Dan percaya atau tidak percaya tidak sampai satu tahun perusahaan yang saya baru jalankan 6 bulan sudah mencapai nilai 1 Milliar, WOW !, tahyul atau cuman kebetulan saja ? Yah opini apapun dari anda bebas tidak salah, hanya saja mungkin ke dua kawan saya perlu untuk melempar koin di Bundaran HI juga.. hahhaha. Tapi menurut saya ini jelas karena kerja keras, disiplin dan ketekunan yang bisa membuahkan hasil. Dan Tuhan itu adil buat setiap orang yang mencari dan berusaha dalam setiap kondisi apapun.

Three Fountain Eropa

Three Tourist Girls and Three Fountain Italy : obyek photo ini di ambil dari kamera DSLR Nikon D 90 saya, di sini saya tidak berkesampatan untuk di photo dengan background kolam, yah nasib photografer selalu susah mau eksis sendiri

Dan anehnya lagi di 1 tahun kemudian saya mengulangi tindakan saya ini di kolam Three Fountain Italia, keinginan saya untuk mendapatkan sesuatu terkabul kembali. Sekilas informasi singkat di kolam Three Fountain ini tour guide saya mengajarkan aturan melempar koin, yaitu pertama-tama anda harus membelakangi kolam dulu dan jika anda melemparkan dengan tangan kanan dari bahu kiri anda maka anda akan kembali ke Roma Italia, Peraturan kedua : jika anda melemparkan koin dengan tangan kiri dari arah bahu kanan anda ke kolam maka anda akan mendapatkan jodoh di Negara anda, Peraturan Ketiga : jika anda melemparkan koin tepat kearah kepala anda maka anda akan mendapatkan jodoh dari Italia. Wah, pikir saya waktu itu saya mau melemparkannya dari arah atas kepala saya supaya dapat jodoh cewek bule. Tapi saya memutuskan memilih pilihan nomer dua, dan di tahun berikutnya saya berkenalan dengan seorang wanita di Jakarta yang kelak menjadi istri tercinta saya.

Jadi apakah ini menjadi semacam kepercayaan, tahayul, mitos ataukah hanya kebetulan semata ? yang saya tahu pasti adalah Tuhan itu nyata dan ada dekat dengan kita, tinggal kita berusaha dan berdoa untuk mencapai semua keinginan kita ,Tuhan itu panjang sabar kasih setia Nya. Semoga anda akan mempunyai cerita yang sama dengan saya, atau lebih dahsyat dari saya, Jangan pernah berhenti untuk bermimpi, Berani Bermimpi Berani untuk Kenyataan.

at Eiffel

Eiffel im Here : ini adalah photo saya saat berkesempatan di Paris, Eropa

( PHOTO DOKUMENT by ROTE Creative Production www.roteproduction.com ) | Event Organizer (EO) Surabaya, Bali dan Jakarta Indonesia ( pin BBM 2B2B971A | Whatsapp +6282131036888 )

Cihampelas Bandung

Tiga Kawan : Selfie jadul sebelum ada Tongsis menggunakan kamera Blackbery pertama – tama Hariadi, Saya ( penulis : Tommy ) dan Paulus kala di salah satu tempat di Cihampelas Bandung, Indonesia

( PHOTO DOKUMENT by ROTE Creative Production www.roteproduction.com ) | Event Organizer (EO) Surabaya, Bali dan Jakarta Indonesia ( pin BBM 2B2B971A | Whatsapp +6282131036888 )

Tangkuban Perahu

Tangkuban Perahu : Dua Kawan saya yang narsis hahahaha miss you my friend

 

error: